Search

cakrawala dalam Logos

Melihat suatu cara pandang (cakrawala) di dalam sang Firman (Logos).

Gugat Menggurat Guratan-Nya!

Tidak terasa saya sudah tinggal sekitar satu tahun di Ambon per 17 Mei 2017.  Hati saya tergugat untuk mengguratkan ide saya pada artikel ini, mengingat ada beberapa rekan yang sudah mengguratkan ide dan perenungan mereka. (Lih.  di sini)   Namun, guratan-guratan yang saya tuangkan ini justru lebih merefleksikan apa yang Tuhan torehkan dalam kehidupan saya di Ambon selama satu tahun ini. Sambil mulai mengguratkan tulisan ini, saya teringat pada penggambaran yang Tuhan sampaikan lewat nabi Yeremia mengenai relasi Allah dengan umat-Nya.

Nabi Yeremia pernah menyatakan tentang metafora Allah sebagai tukang periuk (Yer. 18:1-4). Dia membentuk laku ataupun pemikiran umat-Nya ibarat seorang seniman yang piawai, sabar dan juga visioner (tentu motif penghukuman dapat diartikan dalam makna “visioner” ini). Tentu, kalau saya boleh mengandai-andai, Allah sang Seniman Agung itu pun saat ini sedang memberikan guratan di dalam “kayu” kehidupan saya. Saya melihat minimal ada tiga guratan yang Dia berikan di dalam satu tahun kehidupan saya di Ambon.

Continue reading “Gugat Menggurat Guratan-Nya!”

Advertisements
Featured post

Kiranya Terangmu Bercahaya!

P_20181112_203552.jpg

 

Kemarin, saya berkesempatan untuk datang ke salah satu tempat rekreasi yang bernama BJBR di Probolinggo. Tempat rekreasi ini dibangun di atas suatu hutan bakau yang berada di tepian pantai. Ada begitu banyak hal yang menarik di sana, namun pemandangan yang berkesan bagi saya ada pada foto yang saya pampang di atas.

Pada foto tersebut, terlihat lampu yang berwarna-warni yang dijulurkan sepanjang hutan bakau yang dahannya sudah dipangkas. Lampu beraneka warna ini membawa keindahan yang bagi saya cukup unik. Warna-warni lampu-lampu tersebut membawa keindahan yang menghiasi malam gelap.

Ketika saya merenungkan kembali peristiwa itu lewat foto yang saya unggah ini, saya teringat ada satu bagian dari Alkitab yang menyatakan bahwa seorang Kristen perlu menjadi terang, sehingga sang orang Kristen dapat dilihat di dalam gelapnya malam. Pengalaman kemarin ini merupakan membuat saya kembali merenungkan makna “menjadi terang” di tengah tengah kegelapan ini terutama dalam konteks ekumenisme Kristen dan kesaksian publik.

Saya percaya bahwa ketika Yesus menyatakan ujaran agar orang Kristen dapat menjadi terang ini sejatinya ditujukan kepada komunitas orang percaya. Ujaran Kristus ini ditujukan pada individu-individu yang berkomunitas. Dengan demikian, perintah untuk menjadi terang ini perlu dilakukan juga oleh tubuh Kristus.

Saya melihat bahwa Tubuh Kristus sendiri dapat dilihat gereja dalam arti komunitas Kristen di dalam suatu gereja ataupun komunitas gereja-gereja.

Apabila saya mencoba untuk menggubah titah Yesus ini di dalam konteks tubuh Kristus yang demikian, saya dapat menyatakannya demikian: “biarlah terang gereja sebagai komunitas Kristen atau komunitas gereja gereja dapat bercahaya.”

Berbicara mengenai individu di dalam komunitas gereja ataupun individu gereja di dalam komunitas gereja saya melihat bahwa kepelbagaian di dalamnya tidak bisa dihindari. Karena itu, realitas mengenai komunitas gereja ataupun komunitas Kristen yang perlu menjadi terang pun perlu dimaknai ulang di dalam pemahaman demikian. Dengan demikian, keunikan setiap gereja ataupun setiap individu dapat dilihat sebagai “terang yang berbeda” di dalam lautan terang itu.

Foto yang saya unggah ini sudah dapat mewakilinya, foto tersebut menjadi gambaran mengenai gereja dengan ragam individunya ataupun komunitas gereja-gereja dapat menjadi terang berwarna warni yang menerangi malam yang gelap.

Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (5)

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32)

Datang sebagai seorang yang asing di Ambon, merantau untuk melayani di tempat yang begitu indah memberikan saya suatu gambaran mengenai ayat ini di dalam konteks pengembaraan. Kali ini, saya memberikan judul guratan ini adalah “Kemerdekaan di dalam Pengembaraan.” Selamat menikmati.

Continue reading “Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (5)”

Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (4)

Salah satu hal yang akan saya kenang selepas pergi dari Ambon adalah keindahan pemandangannya. Inilah salah satu guratan yang ingin saya bagikan juga. Oleh guratan ini juga saya dapat memikirkan kembali banyak hal. Karena itu, saya ingin membagikan satu galeri yang saya dapatkan di Ambon ini. Walaupun tidak banyak, setidaknya ini menggambarkan keindahan Ambon. Selamat menikmati.

Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (3)

Saya sempat membuat tulisan dengan judul “Berdiskusi di Atas Bahu Para Raksasa” tahun lalu. Pada tulisan tersebut, saya merasa senang melihat adanya perkumpulan teologis yang sedang terjadi di STT Satya Bakti. Saya sempat menyatakan bahwa orang-orang yang ikut di dalam pertemuan ini sejatinya sedang terus melanjutkan perundingan teologis di atas bahu para raksasa teologi yang hidup sebelumnya. Tapi pada bulan April tahun ini, saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan Regional yang dilakukan oleh Asosiasi Teologi Indonesia di STT GKST Tentena. Saya juga sempat mempresentasikan tulisan saya dengan judul “Menanggapi Persoalan Lingkungan dari Sudut Pandang Teologi Injili” pada perhelatan ini. (unduh Naskah Presentasi dan presentasi)

Saya akan memberi judul pada guratan ini sebagai “Sumbangsih dari ‘yang Asing’ pada Indonesia.”

Kami juga sempat ke salah satu air terjun untuk menikmati indahnya keadaan alam di Sulawesi.

Continue reading “Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (3)”

Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (2)

Gambar ini diambil ketika saya mendapatkan kesempatan untuk makan di salah satu restoran di Ambon dengan nama Wailela. Restoran ini mempunyai lokasi pemandangan yang sangat indah. Dari restoran ini, kita dapat melihat kota Ambon dari seberang teluk (jika tidak percaya, silahkan anda berselancar didunia maya).

Continue reading “Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (2)”

Kembali Tergugat untuk Menggurat Guratan-Nya (1)

Sekitar satu tahun yang lalu, saya sempat membuat suatu tulisan yang berjudul “Gugat untuk Menggurat Guratan-Nya.” Tidak terasa bahwa satu tahun sudah berlalu semenjak saya menuliskan tulisan itu.

Bulan lalu, pada tanggal 18 Juni 2018, saya menyelesaikan pelayanan saya di Ambon setelah tinggal di sana selama dua tahun. Saya tergugat untuk kembali merefleksikan setiap “guratan” yang sudah ditambahkan oleh sang Pencipta di dalam kehidupan saya lewat memori-memori terekam di dalam galeri foto yang masih tersimpan di gawai saya, terutama di dalam perjalanan satu tahun yang terakhir ini.

Guratan yang pertama ini merupakan suatu galeri mini dengan judul: “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.”

 

My Way, My Adventure!

Apabila kehidupan dapat diibaratkan sebagai suatu jalan, tentu kita–sebagai manusia–menginginkan agar jalan kehidupan kita berjalan lurus. Maksud saya dengan jalan lurus ini adalah suatu kehidupan yang lancar, tanpa ada masalah, dan kalau bisa apa yang kita rencanakan dapat berjalan dengan dan tanpa hambatan. Namun, saya melihat di dalam kehidupan saya, seringkali jalan kehidupan ini justru tidak selalu lurus.

Saya baru saja mengikuti rangkaian acara pertemuan regional yang diselenggarakan oleh rekan-rekan ATI di STT GKST Tentena pada tanggal 10-12 Mei 2018. Ketika saya mendengar akan diadakannya kegiatan ini dan juga call for papers, hati saya begitu bersemangat dan mulai mengetikkan ide-ide pada guratan dokumen maya di laptop saya. Gairah saya membuncah ketika saya dikabarkan dapat membawakan ide saya pada acara tersebut. Gairah ini semakin meluap karena majelis jemaat saya pun mengizinkan saya untuk pergi ke Sulawesi. Walhasil, saya akhirnya mencoba merencanakan perjalanan saya menuju Tentena dari jauh-jauh hari.

Continue reading “My Way, My Adventure!”

Maria

Tuanku telah meregang nyawa
Tubuhnya terbaring dalam pusara
Dalam gelap gulita
Tertutup dalam gua

Tuanku telah meregang nyawa?
Tubuhnya menghilang dari pusara
Entah dimana
Melewati batu yang terlunta

Tuanku telah meregang nyawa!
Namun tubuhnya di mana?
Hanya ada air mata
Karena laku durjana

Tuanku telah meregang nyawa
Sampai ada suara bertanya
Mengapa matamu berkaca
Mengapa hatimu gundah gulana

Tuanku telah meregang nyawa!
Bahkan mayatnya tiada
Betapa kejam manusia
Berlaku durhaka dalam pusara

Tuanku telah meregang nyawa?
Ada suara berkata
Dalam nada yang biasa
Maria…

Tuanku telah meregang nyawa
Namun dia di depan mata
Apakah ini fakta?
Apakah ini realita?

Tuanku telah meregang nyawa!
Tiada mungkin dalam dunia
Orang mangkat berbicara
Dalam keadaan jaya

Tuanku telah meregang nyawa?
Logika tiada berkarya
Senang membuncah dalam asa
Karena dia berkata: “Maria..”

*Perenungan ini keluar setelah membaca Yohanes 20:11-18, suatu perjumpaan Maria dengan Kristus yang telah bangkit.

Suatu Catatan: “Alone with God.”

P_20170922_095421

Saya mendapatkan gambar ini ketika mengikuti Konvensi Alumni di STT  SAAT bulan September 2017. Pada waktu itu, saya sedang mengikuti acara “alone with God.” Pada momen ini, para peserta Konvensi diminta untuk merenungkan kembali mengenai relasi pribadinya dengan Allah Trinitas. Pada waktu itu, peserta Konvensi diberi sebuah lilin untuk dinyalakan di dalam ruangan sebagai bagian di dalam doa kepada Allah Trinitas.

Continue reading “Suatu Catatan: “Alone with God.””

Blog at WordPress.com.

Up ↑